Saturday, April 14, 2012

Smile to the World

               “Language is powerful,” my lecturer said without any expression. My classmates and I were silent.
            “You can do anything with language,” he continued and kept staring us, his innocent students, still with his flat expression.
            “Do you know the reasons?,” he paused for a moment, then asked the smartest student to answer it.
            “Tira, can you give me an answers?,” his voice was louder. Tira shook her head and bowed. There’s no answer from her.
            “Who knows?,” My lecturer asked again. Billy, the lowest  ranking student in my class rose his hand. With smile, Billy said confidently,”Because it has been successful in making me afraid to take your class.” He stopped his words, and the class was full with laugh. While, my lecturer was silent.
           


Friday, April 13, 2012

Letter to God (What I've learnt from it)


Letter to God
 
Letter to God tells about the great spirit of the young boy, Tayler (Tanner Maguire), who has the acute cancer. He never give up to face his disease. It makes him success to inspire the people around him.
This inspiring movie is started by the scene of the posting activity in the morning. The boy named Tayler puts a letter in the mail box in front of his house secretly. The postman doesn’t feel weird when see the destination address of Tyler’s letter. Everyday Tayler does the same thing.  He sends a letter to God.
Having the acute cancer, Tayler never give up. One of the reasons why he still survives is the beloved people around him. In that house, he lives with her mother, Maddy Doherty (Robyn Lively), her older brother, Ben Doherty (Michael Bolten) and his grandmother, Olivia (Maree Cheatam) who always supports him. His father passed away some years ago. Although his mother is a widow, she always tries her best for Tayler. Ben and their grandmother treat him well too when his mother goes to work. Tyler has also a best friend, Samatha (Bailee Madison).  She helps Tyler not only in the house but also in school.
Unexpectedly, Tayler’s letters give the great impact for the Brady McDaniels (Jeffrey Johnson), the new postman who feels confused where he must bring Tyler’s letters. Then, he decides to bring the letters to Church. But the Pastor refuses the letters and asks him to decide where he should bring the letters by himself.  Finally, Brady reads all of Tyler’s letters. He gets many moral values from those letters.
Like what Brady has got, I can also learn about the spirit of live, the way to survive in the difficult situation and face the problems bravely. I don’t need to be afraid to face the problems that I’ve got because God is always there for me. “No temptation has overtaken you except what is common to humanity. God is faithful and He will not allow you to be tempted beyond what you are able, but with the temptation He will also provide a way of escape, so that you are able to bear it” (1 Corinthians 10:13).
I has also to be grateful with the all of the conditions in my life. I believe God has the special purposes behind the problems that I've faced. Beside that, this movie reminds me to keep the relationship that I have with my family, my friends or the other people around me. Giving respect to others is better than waiting for it. :)

A Journalist


Being journalist is fun. He or she is the one who seeking for information such as economic growth, education, entertainment, etc. There are some advantages that will you get if you want to be a journalist. The first, you will know more about the actual and factual news that happen around you. Besides, you will have the wide relationship with others. You may also have chances to interview the popular and important person such as government or celebrities to ask about the information that you need for your journals. In addition, you can go to the other places to search the news. You may visit the great place even go overseas freely because your company pays it for you. The last, you will get salary to support your life.
Although there are many advantages, journalist has some weakness too. You must be an available person. You have to be ready every time and every where you get the job to report the events or news. For the example there is unpredictable moment such as disaster that you do not know when it will happen. You have to ready to report it. Beside that, you can not spend much of your time with your family, your closed friends or your beloved person. The other thing is you must be ready to accept the critics from the other people who have the contrast opinion with your journals.

Monday, March 26, 2012

Renungan-Motivasi Pelayanan

Sahabatku, L dan Pelayanannya

Aku memiliki seorang sahabat dekat. Kemanapun dan dimanapun kami selalu bersama. Aku dan dia sebaya. Meskipun demikian, kadang aku manggil dia “mbak’” karena kedewasaannya yang melebihi remaja seusia kami. Di lain waktu, aku manggil dia “dik” karena sifatnya yang seringkali terlihat seperti anak-anak. Dia terlihat seperti memiliki dua sisi yang berbeda. Ada juga yang bilang dia “bunglon”, dapat berubah sewaktu-waktu.
 Suatu ketika, dia bercerita padaku tentang seseorang yang dia suka. What a surprise! Akhirnya dia mau membahas hal ini juga, biasanya dia cuek bebek kalau soal ini. Sebagai sahabat, sahabat yang selalu ada untuknya, sudah pasti aku harus mendengarkan curhatnya kali ini. Terungkaplah bahwa dia telah menyukai seseorang sejak lama. Sejak hampir 6 tahun yang lalu. Ini sebenarnya yang membuatnya tidak pernah membicarakan soal pacar, pasangan hidup or whatever yang berhubungan dekat dengan kata-kata kunci tersebut diatas.

Aku sempat mengerutkan dahi ketika mendengar awal mula perasaannya muncul. Bisakah menyukai seseorang hanya dalam waktu yang singkat? Dia dan laki-laki yang disukainya (selanjutnya dalam tulisan ini, laki-laki itu akan disebut “L”) tidak berada dalam satu wilayah yang sama, tidak pernah berada dalam satu sekolah yang sama, apalagi pergi bersama. Tidak pernah! Pokoknya mereka tidak sering ketemu. Hanya sesekali di tempat-tempat umum atau sekedar papasan di jalan. Dalam setahun, mungkin dia hanya bisa melihat laki-laki itu sekali atau dua kali, bahkan mungkin tidak melihatnya sama sekali. Lalu kenapa bisa muncul perasaan itu? Aku tidak mengerti mengapa dia bisa mencintai dengan begitu tulus dan sungguh-sungguh dalam kondisi yang demikian.
Kemudian aku, sebagai sahabat terdekatnya, berusaha memberikan sedikit masukan untuknya. Aku yakin, siapa pun yang mengetahui kisahnya akan memberikan nasehat yang sama untuknya. Aku bilang ke dia, untuk memilih; ingin tetap mencintainya dan mengungkapkan perasaannya ke L, atau melupakan cintanya itu kemudian membuka hatinya untuk laki-laki lain. Tapi ternyata, dia tidak memilih kedua-duanya.
Dia bukan tipe wanita yang mudah mengungkapkan perasaannya. Dia juga bukan tipe wanita yang mudah untuk melupakan perasaannya. Karena itu dia tidak bisa memilih keduanya. Aku berusaha mengerti kondisinya, meskipun aku sedikit kesal, karena dengan ini dia terkesan sedang menyakiti dirinya sendiri. Menyimpan perasaan yang demikian selama bertahun-tahun bukankah akan terasa sangat sakit? Aku merasakannya, saat dia merasa sakit, aku pun merasakan sakit hati. Itulah mengapa aku dan dia disebut “sahabat”.

Dia juga bilang padaku bahwa dia ingin L dapat mengetahui perasaannya. Dia juga berharap bisa bersama dengan L. Sering juga dia membayangkan masa-masa indah yang dapat mereka lalui jika bersama. Suatu kali, terlintas dalam benaknya untuk memanfaatkan apa yang dia punya untuk menarik perhatian L. Sahabatku ini cukup aktif dalam pelayanan di Gereja. Itu sebabnya dia ingin menarik perhatiaan L dengan meng’expose dirinya. Mulai muncul keinginan agar orang-orang mengaguminya, hingga ia dibicarakan orang-orang, namanya dikenal luas dan L mungkin saja bisa mendengar tentang hal itu. Dia ingin “terkenal”.

Hampir saja dia menjalankan rencananya ini, dia tertegur oleh Firman Tuhan yang didengarnya dalam satu ibadah. Selama ini, dia percaya bahwa Tuhan akan memberikannya yang terbaik. Namun, secara tidak langsung dia meragukan rencana Tuhan. Dia menjadi tidak sabar, susah mengendalikan keinginannya dan berpikir bahwa semua bisa dilakukannya seorang diri, tanpa campur tangan Tuhan. Dia lupa bahwa semua berasal dari Tuhan.
Dia akhirnya merenungkan kembali strategi yang nyaris dijalankannya. Benarkah jika demikian motivasi pelayanan yang dia miliki? Talenta yang ada padanya adalah anugerah dari Tuhan. Tidak layak dia memegahkan diri dan mencari kepuasan pribadinya semata. Sungguh dia merasa sangat bersyukur dengan teguran itu.
Kini, dia terus berusaha mengesampingkan motivasi-motivasi yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Dia yakin, Tuhan sanggup melakukan segala sesuatunya. Jika Tuhan memang berkenan dia bersama L, Tuhan pasti senantiasa menolongnya, entah nanti L akan mengetahui perasaannya, atau dia dapat melupakan perasaannya pada L dan berada bersama orang yang Tuhan pilihkan. Dia percaya semua indah pada waktu-Nya.
Aku bersyukur bisa ikut terlibat dalam pergumulan sahabatku ini. Semoga kisah sahabatku ini bisa mengingatkan kita semua tentang motivasi yang ada dalam diri kita dalam pelayanan. Tuhan memberkati 

Nb: Dear sahabatku, terimakasih untuk membagikan ini padaku. Percayalah Tuhan mengasihi kita semua dan akan memberikan yang terbaik. Semua indah pada waktuNya.

Saturday, March 10, 2012

Anugerah dalam Amplop Coklat

Aku berjalan seperti hari-hari biasa. Seperti hari dimana aku masih percaya pada mimpiku. Aku menyapa dan tersenyum pada orang-orang di sekitarku seperti hari-hari biasa. Seperti hari dimana aku masih berpegang teguh pada mimpiku. Dan aku masih duduk di tempat ini seperti hari-hari biasa. Seperti hari dimana aku masih menyematkan mimpi itu dalam hatiku.
“Tidak ikut?,”tanya seorang sahabatku. Aku hanya tersenyum seraya memamerkan novel yang sedang aku baca.
“Tanggung,” jawabku berusaha menutupi keinginan pergi bersama dengannya. Kuharap dia tidak curiga dan mempercayai bahwa aku tidak ingin pergi denganya karena alasan ini; karena aku sedang sibuk mencermati tiap kata dalam novel yang sedang aku baca di perpustakaan sekolahku ini. Sahabatku itu hanya terdiam. Sejenak ia terus menatap padaku dan juga novel ini. Mungkin dia sedang memikirkan sesuatu, entah apa. Atau mungkin juga dia sedang menyelidiki kebenaran dari alasan yang telah aku lontarkan. Ya, tidak salah. Tidak salah jika dia berpikiran demikian karena tidak biasanya aku menolak ajakan untuk membicarakan mimpiku.
“Yakin?,” selidiknya. Aku kembali mengangguk kecil dan membuka lembar berikutnya dari novel ini. Dia pun akhirnya pergi, pergi meninggalkan aku yang telah meninnggalkan mimpiku juga. Aku kembali memainkan lembaran-lembaran dalam novel. Sesungguhnya sejak tadi aku hanya memanfaatkan novel ini sebagai alibi untuk menghindar dari hal-hal yang mengingatkanku pada mimpiku. Tidak ada satu halaman pun yang benar-benar sedang kubaca.
Tiba-tiba saja seorang laki-laki paruh baya berpakaian dinas menghampiku. Beliau memanggil namaku, nama yang berarti anugerah. Mungkin sejak lahir, mereka, orang tuaku, menganggap aku sebagai anugerah, atau mungkin pemberiaan nama itu mereka maksudkan agar aku bisa menjadi anugerah untuk orang lain disekitarku. Awalnya, saat aku masih percaya pada mimpi-mimpiku, aku masih meyakini itu benar. Namun sekarang, tidak demikian lagi adanya.
Aku tersenyum pada beliau, berperilaku seolah tidak pernah terjadi apa-apa dalam kehidupanku. Semua baik-baik saja. Ya, semua baik-baik saja. Itu yang ingin aku sampaikan pada semua orang disekitarku. Beliau menyodorkan sebuah amplop coklat yang perekatnya sudah dilepas. Aku menerimanya, mengamati bagian luar amplop itu. Tidak ada namaku. Bukankah ini surat dinas yang ditujukan untuk sekolahku dan bukan untukku? Mengapa menunjukkan ini padaku? Sebuah amplop. Hanya sebuah amplop berwarna coklat, tanpa namaku, nama yang mereka artikan sebagai anugerah.

***
Aku membanting diaryku di hadapan mereka. Di hadapan mereka yang memberikanku nama yang berarti anugerah.
“Jadi seperti ini arti nama yang Ayah dan Ibu artikan sebagai anugerah?” tanyaku pada mereka dengan nada setengah berteriak dan linangan air mata.
“Jadi ini? Ini hasilnya?” Aku kembali melontarkan pertanyaan. Mereka hanya diam menatapku. Di wajah mereka terlukis kepedihan yang mendalam. Entah karena mereka merasa bersalah atas apa yang mereka telah lakukan padaku, atau karena mereka kecewa akan sikapku, aku tidak tahu. Yang jelas saat ini tidak ada yang bisa merasakan betapa sakitnya aku.
Aku lemas, bahkan aku tidak sanggup untuk berdiri lagi. Tangisku semakin menjadi-jadi setiap kali aku mengingat akan mimpiku. Dulu mereka, mereka yang memberiku nama dengan arti anugerah ini, membiarkanku terlarut dalam mimpi-mimpiku. Diary biru ini, dary yang mereka berikan padaku untuk mimpiku. Mereka memintaku menuliskan mimpiku disini. Di diary biru ini. Bermimpi seperti samudera atau langit biru yang luas yang tidak memiliki batas. Aku boleh memimpikan apa pun, tanpa harus dibatas-batasi. Itu yang selalu mereka katakan.
Kini, lihatlah aku hampir saja melangkahkan kaki untuk lebih dekat pada mimpiku. Setelah mereka mengzinkanku mengisi formulir pendaftaran mahasiswa baru, setelah aku melampaui tiap tahapan dan berhasil mengikuti semuanya dengan baik, mereka justru mengatakan aku tidak bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi itu? Permainan apa sebenarnya yang mereka buat untuk mimpiku? Sungguh aku tidak me ngerti.
“Berdoa Nak, bawa semuanya dalam doa,” mereka kembali mengingatkanku. Aku tahu itu, mereka selalu berkata demikian. Aku sudah berdoa, berdoa dan berdoa. Aku meminta Tuhan untuk memberikanku jalan agar aku boleh semakin dekat dengan mimpiku. Tapi inikah yang harus aku terima sebagai jawaban dari doa-doaku? Mereka tidak memiliki cukup uang untuk mendanai kuliahku. Tidak ada, bahkan untuk membayar uang masuk pun tidak ada.
Aku kembali menangis dan hanya menangis. Seharusnya mereka tidak bermain-main dengan mimpiku. Seharusnya mereka tidak memberikanku diary biru itu. Kenapa tidak mereka sampaikan sejak awal jika memang akhirnya akan begini? Kenapa tidak membiarkanku menjalani kehidupanku tanpa impian? Aku lelah, lelah dan lelah dengan semua harapan palsu itu.
***
Aku menatap mereka, kedua orang tuaku, sungguh air mata ini tidak dapat aku bendung. Mengalir begitu saja. Aku ingin mengatakan sesuatu pada mereka, tapi aku tidak memiliki kekuatan untuk itu. Sesak rasanya. Lagipula aku tidak berhasil menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan bagaimana perasaanku saat ini.
“Maaf...” itu adalah kata pertama yang berhasil aku lontarkan pada mereka yang tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya telah terjadi padaku.
“Maaf...” dan itu adalah kata selanjutnya yang bisa aku ucapkan pada mereka yang telah memberiku sebuah nama, nama yang memliki arti anugerah. Aku menyodorkan amplop coklat itu kepada mereka. Ayahku yang mengambilnya. Dia bergegas menuju kamarnya dan berusaha menemukan kacamata plusnya.
“Ada apa sebenarnya?,” ibuku tetap menatap ke arahku yang tidak dapat menghentikan tangis ini. Beberapa saat ayahku kembali. Dia membaca lembaran kertas di dalam amplop coklat yang dialamatkan bukan untukku itu. Amplop coklat yang diberikan guruku saat aku sedang membaca novel di perpustakaan tadi pagi. Aku menunduk, menunduk lemah, membiarkan air mata yang menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi. Ibuku mengalihkan pandangannya ke arah ayahku yang mungkin mulai mengerti dengan situasi ini. Ibu beranjak mendekati ayahku. Ia mencoba menghapus rasa keingintahuannya, berdiri di sebelah ayahku untuk turut menyelidiki isi kertas itu.
Ayah melepaskan kacamatanya. Aku memberanikan diri melihat ke arah seorang pria yang telah berusaha melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya, yang setiap hari membiarkan kulitnya dibakar matahari, bekerja keras hanya untuk membuat keluarganya bahagia. Dan Ibu, air matanya menetes lagi. Air mata yang selalu menetes dengan tulus untuk anak-anaknya. Sungguh Tuhan, aku bersyukur Engkau menempatkanku di tengah-tengah keluarga ini.
Amplop coklat itu memang tidak ditujukan untukku, tapi isi dari amplop itu sungguh adalah anugerah yang Tuhan siapkan. Namaku ada di dalamnya, nama yang memiliki arti anugerah. Beasiswa penuh. Itu pesan yang tertulis didalamnya. Ampuni aku Tuhan untuk apa yang telah aku lakukan dan terimakasih untuk semua yang telah terjadi, yang telah mengajarkan kami bahwa Engkau membuat semua indah pada waktunya. Bahwa Engkau telah siapkan yang terbaik untuk kami.

-DRA-Singaraja- March 10, 2012

Friday, February 17, 2012

Pelayanan Bagi Pendamaian

PELAYANAN BAGI PENDAMAIAN KONFLIK
DALAM ORGANISASI KATEGORIAL

I.PENDAHULUAN
Kata konflik sering dihubungkan dengan pertengkaran, perkelahian, pengrusakan ataupun hal-hal lain yang memiliki konotasi negatif. Konflik selalu melibatkan dua atau lebih, sisi yang berlawanan, baik itu berhubungan dengan orang, peraturan, budaya, maupun benda-benda tertentu.

Contoh sederhana adalah konflik batin, artinya bahwa dalam diri seseorang terdapat dua atau lebih gagasan atau keinginan yang saling bertentangan; hal ini biasanya akan sangat mempengaruhi tingkah lakunya. Contoh lain adalah konflik sosial, artinya ada pertentangan/persaingan antar anggota masyarakat yang bersifat menyeluruh.

Konflik sendiri telah terjadi sejak masa Perjanjian Lama. Ada beberapa kisah yang kembali mengingatkan bagaimana konflik tersebut terjadi. Misalnya saja, konflik antara Esau dan Yakub saat memperebutkan hak kesulungan. Meskipun konflik tersebut terjadi dalam waktu yang cukup lama, namun akhirnya Esau dan Yakub dapat berbaikan kembali.

Gereja sebagai perpanjangan cinta kasih kepada dunia ini, memiliki tugas yang datang dari Kepala Gereja, yakni Yesus Kristus. Gereja bukan hanya dimengerti sebagai tempat ibadah orang Kristen saja, namun memiliki arti yang lebih dalam lagi yaitu “dipanggil keluar.” Tugas panggilan gereja tersebut adalah koinonia (persekutuan), marturia (kesaksian) dan diakonia (pelayanan). Diakonia adalah salah satu tugas panggilan gereja yang tidak bisa dilepaskan dari gereja itu sendiri, atau dengan kata lain tidak ada gereja yang tidak ber-diakonia (Markus 10:45).

Namun dewasa ini, tidak jarang terjadi konflik di tengah-tengah pelayanan, khususnya di dalam kepengurusan kategorial yang disebabkan oleh beberapa faktor baik yang berasal dari dalam maupun luar pengurus kategorial. Secara tersirat hal ini mempengaruhi kinerja dari pengurus kategorial dan selanjutnya berpengaruh pada pelayanan yang dilakukan bagi Tuhan dan sesama. Oleh karena itu, secepatnya konflik dalam organisasi kategorial ini perlu diselesaikan.


II. PEMBAHASAN
A. Penyebab Terjadinya Konflik dalam Organisasi Kategorial

Biasanya gereja maupun pelayanan hanya terfokus pada perhimpunan kehadiran dalam ibadah-ibadah dan aktivitas kerohanian sebagai nilai kekristenan itu sendiri sehingga melupakan makna dari persekutuan. Masing-masing individu berlomba untuk mendapatkan penghargaan atas kinerjanya dari “dunia” bukan untuk hormat dan kemuliaan Nama Tuhan. Tipe pelayanan sepeti inilah yang seringkali memacu rasa egois pada diri individu, dalam hal ini pengurus kategorial.

Hal ini bertentangan dengan Firman Tuhan bahwa dalam pelayanan biarlah Nama Allah dimuliakan di dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus (I Pet 4:11b). Gereja ataupun pelayanan tidak atau kekurangan tujuan yang pasti. Keegoisan dari masing-masing individu yang terlibat dalam pelayanan seringkali memicu adanya konflik. Konflik ini selanjutnya menimbulkan ketidaknormalan situasi dan kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor.

Pertama, disebabkan oleh kesalahpahaman dalam mengartikan tindakan, perkataan orang lain, situasi maupun kondisi. Kesalahpahaman ini meliputi: ketidakmampuan dalam memahami dengan jelas semua unsur-unsur yang terlibat dalam proses pelayanan, salah menafsirkan maksud atau motif dibalik perkataan atau perbuatan seseorang dan ketidakcocokkan seperti pertengkaran atau perselisihan karena kurang puas atas jawaban dan tindakan seseorang (Filipi 1: 15a; Amsal 10:12a; Amsal 17:19a).

Kedua, kekacauan administrasi dalam organisasi. Seluruh administrasi tersedia, tetapi tidak tersusun secara kronologis atau tidak sesuai dengan kebiasaan berpikir sehingga muncul sikap saling menyalahkan dan menganggap bahwa “partner” pelayanan-lah yang menyebabkan hal ini terjadi. Dengan kata lain, tidak ada kerja sama yang baik dan kesatuan hati dalam organisasi.

Adanya perselisihan antar pengurus kategorial yang disebabkan oleh rasa ketidakcocokan, kebencian dan iri hati yang timbul dari masing-masing individu. Ini selanjutnya berdampak pada kinerja pengurus dalam mengelola dan mengkoordinasi pelayanan yang ada. Jelaslah ini menyebabkan pelayanan yang dilakukan tidak sungguh-sungguh memuliakan Tuhan karena apa yang dilakukan untuk Tuhan tidak didasari dengan ketulusan dalam melayani. Padahal Tuhan mau kita melakukan pelayanan dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah untuk kemuliaan-Nya (I Pet 4:11b).

B. Pelayanan Pendamaian dalam Mengatasi Konflik

Sebagai satu tubuh Kristus, sudah sepatutnya apabila tiap-tiap orang dapat melakukan pelayanan dengan sungguh-sungguh dengan segala kerendahan hati (Kis 20:19a) dan saling melengkapi satu dengan yang lain (I Korintus 12:20). Oleh karena itu dalam menyelesaikan perselisihan di tengah-tengah kepengurusan katagorial perlulah diadakan suatu pelayanan pendamaian sehingga perselisihan dapat teratasi dan pelayanan yang dilakukan oleh pengurus kategorial dapat mempermuliakan Nama Tuhan.

a. Merencanakan Pertemuan Damai Sejahtera
Untuk menyelesaikan konflik yang paling penting adalah akar permasalahan dari konflik tersebut diketahui secara pasti. Tujuan dari pertemuann ini adalah memberikan kesempatan kepada pihak-pihak yang berkonflik untuk menyampaikan secara terbuka seiap perasaan-perasaan terganggu yang mereka rasakan dalam sebuah kepengurusan kategorial.

b. Berdoa
Doa menjadi salah satu cara ampuh untuk menyelesaikan konflik. Akan sangat tepat apabila sebelum dan saat pertemuan pendamaian, masing-masing pihak yang berkonflik datang kepada Tuhan untuk memohon hikmat dalam menyelesaikan masalah.
Ini dimaksudkan agar pelayanan yang dilakukan tidak memenuhi keinginan daging semata, namun sungguh-sungguh memohon penyertaan Tuhan. Selain itu, doa dimaksudkan untuk menyatakan siapa yang salah dalam perselisihan tersebut sehingga masing-masing pihak dapat mengintrospeksi diri.
Dalam Matius 26:41, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya. “Berjaga-jaga dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: Roh memang penurut, tetapi daging lemah”. Meskipun Yesus tahu bahwa murid-murid-Nya memiliki keinginan untuk mengikuti Dia, Dia juga tahu kelemahan daging mereka. Inilah sebabnya mengapa Dia mendorong mereka untuk berdoa. Dia tahu bahwa kuasa Roh Kudus yang dapat menguasai kelemahan daging.


c. Bersimpati terhadap Perasaan Orang Lain
Mau terbuka terhadap apa yang sebenarnya dirasa tidak cocok, terlebih mau mendengarkan satu sama lain akan sangat membantu proses pendamaian. Masing-masing pihak harus membuka hatinya untuk mau mendengarkan, tidak hanya sekedar menyampaikan maksud pribadi yang terkesan mementingkan ego sendiri.
Sebagai manusia biasa, mungkin hal ini terasa sangat berat. Namun, saat kita membiarkan Roh Kudus menngendalikan maka semua akan dapat berjalan dengan baik. Dalam Yakobus 1:19b dengan jelas disampaikan agar setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata dan juga lambat untuk marah.
Secara tidak langsung, semakin banyak individu mau mendengarkan, semakin sedikit ia akan berbicara. Semakin lambat berbicara, semakin mudah untuk menahan emosi dan amarah.


d. Jangan Menghakimi!
Seringkali manusia menghakimi sesama atas apa yang terjadi di dalam kehidupan. Dengan mudah kesalahan orang lain akan terlihat, tanpa menyadari kesalahan diri sendiri (Mat 7:3). Padahal, dalam Matius 7:1 tertulis “Jangan kamu menghakimi supaya kamu tidak dihakimi.” Apabila hal ini masih ada dalam diri masing-masing pihak yag berkonflik, maka Pelayanan Pendamaian yang dilakukan akan menjadi sia-sia.
Arahkan untuk senantiasa mengakui bagian di dalam perselisihan yang terjadi. Akui kesalahan dalam konflik. Pengurus Kategorial harus mau mengakui bagian dalam ketidaksepakatan dengan tulus sebelum mendiskusikan kesalahan dengan partner.

e. Mengusahakan Seia Sekata, Sehati dan Sepikir
Perpecahan hampir pasti terjadi karena ada pihak yang ingin meninggikan diri di atas pihak yang lain atau kedua belah pihak ingin berada di atas pihak yang lain. Ini menandakan bahwa tidak adanya kesatuan hati di antara pengurus kategorial dalam mencapai tujuan organisasi.
Kunci untuk mengatasi hal tersebut adalah mengenakan hikmah Allah untuk mengusahakan seia sekata, sehati dan sepikir. Dalam I Kor 1:10 Rasul Paulus menasihatkan supaya jemaat seia sekata dan jangan ada perpecahan, tetapi sebaliknya supaya erat bersatu dan sehati sepikir.
Hal ini juga mengisyaratkan kepada pengurus kategorial untuk tidak mempertahankan ego masing-masing dan mau merendahkan hati dalam menerima perbedaaan agar dapat menjadi satu kesatuan. Dalam 1 Korintus 12:20 tertulis “Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh”
Ingatlah bahwa Tuhan Yesus telah lebih dahulu merendahkan diri sampai mati di Kayu Salib agar manusia memperoleh anugerah keselamatan. Teladan Tuhan Yesus ini pun wajib ditiru dengan mengusahakan kebaikan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk sesama.

f. Bekerjasama dengan orang lain
Mengarahkan pihak berkonflik untuk mau membuka diri akan permasalahan dan berkerjasama dengan orang lain akan semakin memudahkan terselesaikannya konflik. Dalam Amsal 23:13 tertulis ”Arahkanlah perhatianmu kepada didikan, dan telingamu kepada kata-kata pengetahuan” Adanya pihak ketiga dalam proses Pelayanan Pendamaian akan mendukung Pendamaian dengan baik, terlebih saat masing-masing individu masih membiarkann ego dan amarah menguasai hati dan pikirannya.
Pihak ketiga ini dapat memberikan masukan, menyela di saat pembicaraan dalam pertemuan tidak menemukan jalan keluar. Selain itu, pihak ini dapat mencegah timbulnya permasalahan baru di antara kepengurusan yang mungkin saja terjadi dalam Pelayanan Pendamaian tersebut.

g. Menekankan pada Rekonsiliasi bukan Resolusi
Resolusi dapat diartikan teratas sebagai penyelesaian dari konflik. Namun, rekonsiliasi berarti memulihkan keadaaan seperti semula. Jelas Tuhan menginginkan agar anak-anak-Nya saling mengasihi satu sama lain (Yohanes 13:34). Bahkan melalui Hukum Kasih, manusia harus mengasihi sesamanya seperti mengasihi diri sendiri.
Hal ini mengesankan pada penyelesaian konflik yang tidak setengah-setengah, hanya berdamai dalam ucapan namun sesungguhnya menyimpan amarah dan dendam di dalam hati untuk meredam kekacauan dan menjaga nama baik. Apabila motif-motif tersebut masih menjadi penyelesaian dalam konflik, maka tidak akan ada damai sejahtera dalam hati masing-masing pihak. Lebih lanjut, pelayanan yang dilakukan dalam Organisasi Kategorial tidak akan berjalan dengan baik.

III. KESIMPULAN

Ketika Yesus mengajar murid-murid-Nya tentang penyelesaian konflik, Dia memberi mereka sebuah penyelesain. Dia berkata, "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata, jika ia mendengarkan nasihatmu engkau elah mendapatkannya kembali.” (Matius 18:15).

Tujuan dari pelayanan pendamaian ini adalah untuk mendapatkan saudara kita kembali, dan ini berarti kita harus datang dengan sikap dan keinginan. Tidak dengan dengan berteriak, jari-menunjuk, dan tuduhan. Hasilnya tentu akan jauh lebih menguntungkan, dan mendapatkan hubungan yang benar.
Kiranya setiap konflik yang terjadi dapat terselesaikan dengan baik sehingga pelayanan yang dilakukan benar-benar bermanfaat bagi sesama, terlebih menyenangkan hati Tuhan.



Sumber Acuan:

Alkitab: Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam Terjemahan Baru.Lembaga Alkitab Indonesia, tahun 1999.

Prof. Dr. Made Wahyu Suthedja dan Pdt. Nyoman Yohanes. Mengimani Karya Penyelamatan Allah dalam Yesus Kristus dengan kuasa Roh Kudus.

I n t e r n e t:

Cara Mengatasi Perselisihan Secara Alkitabiah «AnakMuda!Nongkrong_Tempat Nongkrongnya AnakMuda!html

http://google.co.id/gwt/x?q=Pentingnya+seia+sekata+sehati+sepikir

Monday, May 30, 2011

Moon in Sari's Eyes

Sari sits in silent. Every night, she sees the dark sky alone and tries to find the moon and stars. She hopes it will be same with the moon and stars that she saw at the night when she was still live with her family. Unfortunately, she does not find its tonight. None of that seem to smile and present a glimmer for her.
Sari remembers all the moment in the past when she still had time to banter with crescent that smiled for her, or when the stars were hanging in the dark sky and dropped the beads of hope in her hand. Now, she can’t do the same acts again. There are no moon and stars that will see her smile here. Actually, she misses all of it, but she can’t do anything.
Some years ago, Sari’s family gathered in the small room in their house. Although it was made from bamboo matting, it was a bed of roses(1)for them. It was the living room that became a witness to uncertain beginning in Sari’s life. All eyes in the room simply stared at Sari. Without beat around the bush(2), a middle-aged man tried to convince Sari with her decision.
"I don’t prohibit, I will do whatever you want if that is for your happiness. But, are you serious, Sari?“ asked her father. Sari was silent for a moment. She was at sixes and sevens(3). She couldn’t say anything. In the other side, her mother, brother and sister were silent too. They were waiting Sari’s response.
"As long as you are happy, I agree with it!" her father added.
Sari still did not give answer. She wrestled with her own feelings. Suddenly, it was like there were many branches in her brain. It made her unable to concentrate. She thought about her family. However, she wanted the best for her family, and she thought that live in orphanage was the best solution to solve her family’s problems, especially in her family’s finances.
"I am serious, Dad! I want to learn!" she said softly. The tears fell down in her cheeks slowly. Sari’s parents could not do anything else.
The slamming of the door is surprising her. She stops to remember all the things in the past. For the umpteenth time, she awares that she will be in hot water(4) today. Her face will show the pains when she comes out from the chief’s room. And she knows it will be the same today. Actually, she is really bored with it. Hence, she is trying to ignore that slamming door and carrying on her activity to see the dark sky.
***
Sari is walking at orphanage’s yard. She is trying to find something that can help her to smile. She is looking at her surroundings. There is nobody there. Of course all of the orphans are enjoying their holiday now. They are gathering with their family and telling their experiences for a year. How pity Sari is because she can’t do the same thing. The chief of the orphanage where she stays usually gives her the punishments for the fools that never she do.
"I must be strong!" says that girl. The tears are falling on her cheeks. She is looking at her right hand that still bruise. It was beaten by the chief with a stick two days ago. Sometimes she is really confused why the chief does it to her. The chief had been chosen to manage all well. He should be wise, shouldn’t he? Why never he hear Sari’s statements? Suddenly, Sari remembers again with the moment some weeks ago.
"Sari, come here!" commanded a sturdy man who brought a stick in his right hand. He is the chief of the orphanage. He stood in the middle of orphans who were waiting for the show that will happen. Sari knew what the man did. She tried to avoid. With unsteady steps, Sari was forcing her legs to move ahead.
One man’s meat is another man’s poison(5). Sari knows that statement. That was the reason why she just kept silent when some of her friends giggled, imagined what would happen to her. Besides, one of the orphans was waving his hands and mobilized the masses to pay attention to the show was going to happen. The others immediately played a short drama, played a maid who expected mercy and forgiveness from his master. "Forgive me, Sir! Have mercy!" Their satire was followed by ripples of laughter. Only a handful of people shrink their foreheads. They worried about what will happen.
"Do you need some money for pay your books?" His voice was making all the people there surprised. Sari shook her head. Although her eyelids were getting wet, she tried to keep her tears. She did not want its feel down on his cheeks again.
“Don’t lie! I hate liar! You are the snake in the grass(6)!" the man said again as he pounded the table in front of him with a stick. Sari was silent. The man walked around Sari, and when he confronted with the back of Sari, he lifted his stick in Sari’s back lightly.
"Have mercy, Sir! I never do it. I never take Mona’s money! I am not rustler!"
"Shut up!" The man said loudly.
***
Sari is covering her face. The shadows of the incident continue to follow her everywhere she goes. She does not want any more to remember the incident. Since that problem, her life has changed. It is not her goal. She has stayed here for the better life, not to make the others get one’s monkey up(7). Honestly, she is still confused why chief accused her as the one who took Mona’s money. She never do it. Did Mona say it to the chief? Does the others orphans hate her? Until now, she does not find the answer. She says the truth, but the others call her a liar. She just becomes patient to hear the others call her an Ananias(8).
Although she tries to be a patient girl hardly, she is still not in good shape(9)again. The physical and psychological treatments hurt Sari at all the times. Pain and sorrow usually haunt her faithfully at her side. Even, she thinks that now she is in the hell. Her dream to get an education well is only imagination. Her expectation to relieve her family’s burden, her determination to give his parents a focus for the education of her sister, and her ideals to send her younger brother to collage are crashed by the shadow of uncertainty.
She is looking at the dark sky, seeking a hiding place where she can find the moon. She just wants to share her sadness with it.

***
"Thanks to God because He gave me chance to stay in that orphanage. His entire plan is really wonderful. If I never get these problems, maybe now I can’t stand here to share the stories for all of the audiences here,” Sari says proudly.
The audiences are applauding. They are really proud with Sari’s patience to face her problems. Even, some of them are sheding tears. Sari is going down from the pulpit confidently. She never think that she can speak in front of many people. She reaps the harvest now. She has successed to write her story and join at Children Conference. It is the amazing grace from God in her life. She is happy because she can be the one who fighting for children’s rights.
***

Sari is peeking from behind the bus’s window that would take her back to the new expectations. Moon decorates the night beautifully. It seems looking at her and smiles proudly. Sari showed a brown envelope that is in her hands to the moon. Yes, she gets scholarship for her education until she will obtain a bachelor's degree.
After a storm comes a calm(10). How lucky Sari is. Now, moon is coming back and smiling to her. It whispers to the stars around it to give gifts for Sari. The stars shine brightly to give happiness that there on her life. "Thank you, I will keep your shadow in my heart and mind, “Sari says.



Note:
1very comfortable (idiom)
2talk about subject without coming to the topic (idiom)
3She was in confusion (idiom)
4to be in trouble or difficulty (figures of speech)
5one person may like what another hates (proverb)
6person who is not to be trusted (idiom)
7to get angry (idiom)
8in good physical condition (idiom)
9a liar (figure of speech)
10There is inevitably calm after every storm; there must be something better after every piece of unpleasantness. (proverb)