Friday, August 23, 2013

Share What U Have

Well, let me tell u bout these two extraordinary kids...
Mereka selalu berhasil buat saya speechless.
Kadek Jenny dan Komang Dimas. Mereka saudara kandung dengan usia yang hanya terpaut satu tahun. Selama KKN, saya 'mondok' di rumah Kelian Dinas Tingkad Batu yang rumahnya satu pekarangan dengan rumah mereka. Saat ini Kadek sedang semangat2nya menjalani rutinitas baru sebagai siswi TK, sedangkan Komang belum sekolah.

Sekilas, mereka tampak biasa-biasa saja. Sama seperti kebanyakan anak lainnya di Desa Jehem yang 'malu-malu kucing'. Setiap kali kami (mahasiswa KKN) dekati, mereka akan menjauh. Tapi saat kami jauh, mereka akan melakukan banyak hal untuk menarik perhatian kami.

Hampir setiap pagi, Kadek dan Komang suka manggil kami dengan gaya khasnya.
"KKN...KKN...KKN...." begitu seterusnya sampai ada salah satu diantara kami yang nyahut, kemudian nyapa mereka. Setelah mendapatkan respon, mereka biasanya akan kembali masuk ke dalam rumah, atau sembunyi di balik tubuh ibunya. Ini salah satu bagian yang hingga saat ini selalu membuat saya merindukan mereka. Di kos, gak ada yang manggil-manggil kaya gitu lagi. :(

Setelah puas manggil 'KKN', Kadek bakalan dianter ke TK, sedangkan Komang tetep di rumah. Suatu ketika, saya nganter istri dari Kelian Dinas kerja di Bangli. Jaraknya lumayan jauh dari tempat mondok. Sekitar 15 menit kalau pake sepeda motor.

Pas itu, si Komang minta ikut nganter Meme (panggilannya buat Ibu Kelian Dinas, yang masih ada ikatan sodara sama kedua orangtuanya). Jadilah si Komang saya ajak juga. Nah, setelah nganter Meme, mumpung ke kota, saya mampir di warung dulu, beliin temen2 KKN permen lolipop yang setiap 3 buahnya sama dengan 1 gelas susu :D

Nah, pas di warung itu, si Komang kalem banget! Dia diem aja. Trus saya tawarin dia buat ngambil apa yang dia mau. Masih tanpa berkata-kata, dia akhirnya ngambil satu permen yupi bentuk dinosaurus yang harganya Rp. 500,- Supaya bayarnya genep seribu, saya akhirnya suruh dia ambil satu lagi. Sampe di rumah, saya udah gak inget sama yupi itu. Saya liat Komang makan permennya sambil nemenin si Eka, bendahara KKN yang paling bisa diandalkan, bikin laporan keuangan.

Beberapa jam kemudian, si Kadek dateng. Begitu denger suara sepeda motor bapaknya, si Komang lari ke dalam kamar kami, dia langsung ngambil sesuatu di balik tumpukan buku di atas meja. Waktu itu, saya bener-bener gak naruh perhatian sama apa yang dia kerjain. Si Eka yang penasaran, ngikutin Komang keluar. Pas balik ke kamar, Eka langsung ngasi laporan.

Yupi yang satu lagi ternyata gak dimakan Komang. Dia sembunyiin di balik tumpukan buku-buku kami. Dan setelah Kadek pulang, dia ngasi permen itu ke Kadek. "Ne Dek, beliange permen ajak Kakak KKN."

Jadi, dia nyimpen permen itu buat Kadek? Padahal saya sama sekali engga ada bilang itu permen satu buat dia, satu buat Kadek. Semua murni inisiatif dia. Dia selalu inget kakaknya. Dan dia gak "rakus". Dia cuma makan bagiannya, dan gak minta lagi bagiannya Kadek.

they really do it
Saya sama Eka cuma pandang-pandangan. Kagum sama dua anak itu. Setelah itu, kami semakin suka perhatiin gerak-gerik dua bersaudara ini. Gak cuma kasus permen ini. Suatu pagi, kami sempet masak nasi goreng buat sarapan. Kami ngajak mereka makan bareng, dan kami semakin terpesona begitu melihat mereka saling berbagi dalam satu piring yang sama. They're so cute...

Seusia ini, mereka selalu berhasil nunjukin gimana berbagi dengan yang lain, tidak serakah, mengambil apa yang menjadi bagian kita, membiarkan orang lain mendapatkan apa yang menjadi bagian mereka. Sesuatu yang kadang sulit dilakukan oleh kebanyakan orang. They share what they have; the nicest one.




Wednesday, August 21, 2013

Kadaluarsa sebelum Waktunya

Pulang KKN, seharusnya aku bawa oleh-oleh tentang KKN, tapi.......

Aku punya kisah lain.
Tentang dia. Lagi-lagi tentang dia.
Kamu bosen dengernya? Aku juga sebenernya lelah cerita.
Jujur, seandainya aku punya kemampuan untuk tidak menceritakan tentangnya, tapi...
sayang aku tidak mempunyainya.

Kali ini, aku ingin postingan ini jadi cerita yang terakhir tentangnya (semoga).
At least, jika suatu hari kelak aku kembali menyinggung tentangnya, sudah tidak ada sakit hati lagi terselip disana.

Di tempat KKN, temen2 suka puter lagu ini:

"Sembilan tahun lamanya
Tak kuduga jadi sia-sia
Kuberjuang demi cinta
Kini sudah tak ada artinya"

Aku gak tau itu lagunya siapa, cuma setiap kali temen2 nyanyi itu, aku suka bilang, "Kisahku sama dia belum expired, masih ada waktu sebelum akhirnya semua genap jadi 9 tahun."

Hah? Mendekati 9 tahun?
Aku baru sadar kalo ternyata, 'penyakit' ini betah banget diem di dalam diriku (baca: aku yang terlalu betah melihara penyakit ini).
Selama sekian lama, aku terlalu takut; takut ngomong yang sebenernya ke dia; takut kalau sampai punya rasa ke orang lain; takut kalau........ ah, pokoknya takutku  banyak. Tadi pagi, tiba-tiba sahabatku SMS, ngabarin tentang dia. Dan setelah baca SMSnya, aku semakin sadar kalau sudah saatnya untuk BERHENTI; berhenti nyimpen semua ketakutan itu. Aku gak perlu nunggu harapanku expired dulu buat ngelawan ketakutanku. Sudah cukup, cukup!

Sudah saatnya aku menumbuhkan keberanian untuk menghadapi perasaanku sendiri!


Friday, May 10, 2013

Diam, dan Tenanglah!

Hi... sudah lama aku tidak curhat. Selama ini, aku selalu punya banyak sahabat yang membuatku selalu mengulur-ngulur waktu untuk menulis di sini, bahkan mengunjungi sahabat spesialku di sebuah tempat yang hanya aku dan dia kunjungi.

Entah kenapa, senja ini aku begitu merindukannya. Aku putuskan untuk meninggalkan tempat dimana aku berada sekarang, pergi ke tempat rahasia kami. Seperti yang telah kuduga dia sudah di sana dengan novel tebal dalam genggamannya. Minuman botol bersoda yang kosong di sebelahnya dengan jelas mengatakan padaku, bahwa dia berada di sini sejak beberapa waktu yang lalu. Dia pasti begitu rajin mengunjungi tempat ini seorang diri, meskipun tanpa aku.

"Novel baru?"


"Seperti yang kamu lihat," jawabnya sekenanya. 

Dia pasti kesal padaku. Terakhir kali, aku mengunjunginya pada akhir Desember tahun lalu. Dan hingga sekarang, itu berarti sudah hampir lima bulan.

"Kerjaan di kampus bikin aku nggak napas." Aku berusaha membuatnya mengerti. Setidaknya, dia tidak boleh cuek padaku kali ini. Aku benar-benar ingin dia mendengarkan apa yang ingin kusampaikan. Tapi rupanya dia benar-benar marah. Dia hanya ber-oh menanggapi pernyataanku dan tetap melekatkan pandangan pada novel itu.


"Baik, aku salah. Aku minta maaf."


"Untuk yang keberapa kali?"


"Yang kesekian kali. Aku minta maaf untuk yang kesekian kali."


"Berarti masih ada kemungkinan kalau kamu akan melakukan hal yang sama, besok, minggu depan, atau bulan depan?"


"Tidak lagi!" Aku bisa menangkap kecewa yang membuncah dari gaya bicaranya. Aku sadar bahwa beberapa waktu ini, aku terlalu sibuk dengan keseharianku. Bukan! Aku terlalu menyibukkan diri karena seseorang. Sahabatku itu, dia akhirnya menutup novelnya. Dia balik menyelidik ke arahku.


"Disalahin lagi?"


Aku hanya mengangguk lemah. Selalu, tidak ada yang bisa kututupi saat berhadapan dengannya. Dia terlalu kuat untuk memaksaku berlaku jujur. Dengan orang lain, aku bisa dengan mudah menyembunyikan semua. Tapi dengan dia, aku tidak bisa. Dia tampak menghela napas panjang, menatap botol sodanya yang kosong.


"Seharusnya kamu bawa soda."


"Mungkin seharusnya aku mengirimkanmu pesan terlebih dulu, dan menanyakan apa yang kau perlukan sebelum aku berangkat tadi."


"Itu kamu tahu." 


Aku diam beberapa saat, memberikan waktu padanya untuk melanjutkan perkataannya. Aku tahu, bukan itu yang sebenarnya ingin dia katakan. Dia pasti sedang mengalihkan pembicaraan sejenak dan mencari cara agar aku tidak tersinggung dengan komentarnya. Dia terlalu mengenalku, dia tahu bahwa aku akan lekas tersinggung saat mendengar apa yang menurutku tidak sesuai dengan diriku.

"Kita tidak bisa memaksa orang untuk selalu sepaham dengan apa yang kita pikirkan."


"Aku tahu. Aku hanya berpikir mungkin saja orang-orang terdekatku bisa mengerti bagaimana aku."


Sahabatku kembali menghela napas panjang. "Tidak semua. Manusia terlalu cepat jenuh. Cepat bosan."


"Lalu kenapa kamu tidak pernah bosan?"


"Mungkin karena aku bukan manusia."


"Tidak! Kamu jelas-jelas manusia, sama sepertiku." 


Entah mengapa, emosiku memuncak ketika ia berkata demikian. Dia memilih untuk menghabiskan waktu di tempat ini mungkin karena orang-orang di sekitarnya menganggap bahwa dia tidak seperti manusia kebanyakan.

"Dengar! Terkadang aku juga merasa sepertimu, saat apa yang kusampaikan tidak dipercayai orang, atau bahkan saat mereka tidak menganggapku ada. Kamu tahu apa yang aku lakukan?"


Hening.


"Bisa kamu menebaknya?"


Hening.


"Aku diam."


Aku hampir saja memberikan jawaban itu, tapi meskipun sudah diujung lidah, entah mengapa aku merasa nyaman berada dalam keheningan yang kuciptakan.


"Merasa lebih nyaman?"


"Iya."


"Kadang kita lebih baik diam. Tidak mengatakan apa pun. Tidak berbagi apa pun, termasuk pada mereka yang selalu peduli. Sering-seringlah mampir ke sini. Karena aku tidak pernah bosan mendengarmu, jadikan ini tempat yang paling nyaman buatmu."


Meskipun sedikit terlambat, mulai saat ini, aku akan menuruti nasihatnya. Bagaimana jika mencoba untuk diam?


*Dear sahabatku, kunci itu hanya 2. Satu aku yang memegang, dan satu lagi ada di kamu. Maafkan aku jika aku terlalu egois, meninggalkanmu sendiri, membirkanmu sendiri mennghabiskan waktu di rumah itu.


Saturday, December 22, 2012

"Mengapa" dan "Mengapa Tidak"

Jurnalistik mengenal 5W+1H. Setiap mereka yang mendapat materi Bahasa Indonesia, tentu sudah mengenal istilah ini. Aku belajar 5W+1H sejak aku masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, bertahun-tahun yang lalu. Lima ditambah satu, hasilnya enam. Secara sederhana aku awalnya berpikir bahwa hanya akan ada enam pertanyaan yang akan digunakan; Who, What, Where, When, Why dan How. Bukankah itu sangat mudah? Saat melakukan praktik wawancara, yang perlu kulakukan hanya menerjemahkan kata-kata itu ke dalam Bahasa Indonesia, kemudian membuat meletakkan mereka di awal pertanyaanku. Jika aku buat listnya, maka akan menjadi seperti ini:
Siapa............?
Apa..............?
Dimana........?
Kapan..........?
Mengapa......?
Bagaimana....?

Berbekal enam pertanyaan yang sudah tersusun sedemikian rupa dan sedemikian hingga, berita yang aku buat akan memenuhi kriteria sebagai berita yang baik. That's what I thought... But, I was wrong!
Saat berhadapan dengan narasumber keenam pertanyaan itu tidak akan cukup!Ada banyak informasi yang  masih bisa digali. Siapa bisa menjadi 5 pertayaan, demikian pula dengan kalimat tanya yang lain.

That is the reality! Aku sadar bahwa ada banyak pertanyaan yang bisa bermunculan selama kita masih hidup di tengah dunia ini, selama kita masih disebut manusia. Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, saat ini, aku ingin berkisah tentang "mengapa" dan "mengapa tidak".

Mungkin saat membacanya, ada diantara pembaca yang bertanya: Mengapa harus "mengapa" dan "mengapa tidak"? Mengapa tidak "apa" dan "bagaimana". Jika memang pertanyaan itu yang muncul, maka itulah jawabannya. Bisa mengerti apa yang kumaksud?

Entah karena mind-setting manusia telah diatur seperti itu, atau karena ada faktor-faktor lain (mungkin ada yang bisa memberikan tanggapannya tentang hal ini?) saat ada sesuatu yang kita anggap tidak sesuai dengan keinginan, 2 pertanyaan itu otomatis akan muncul.

"Mengapa" menggambarkan bahwa sebenarnya kita adalah pribadi yang kristis, juga pribadi yang selalu ingin tahu, terutama hal-hal baru, dan apa yang belum kita mengerti. Tidak saja dengan mudahnya setuju terhadap sesuatu. It's good, isn't it? Ini adalah salah satu tameng yang bisa membuat kita bertahan pada apa yang kita yakini, dan tidak jatuh pada apa yang kita anggap tidak sesuai. Kurangnya adalah pertanyaan terkesan sebagai penanda bahwa sebenarnya kita sedang "menentang". Iya 'kan?

Sedangkan, "mengapa tidak" sejauh ini, "mengapa tidak" (sejauh yang aku mengerti, jika ada  yang ingin menambahkan, silakan...) memiliki dua arti yang sangat signifikan. Pertama, ini mengindikasikan  kreativitas yang kita miliki karena "mengapa tidak" biasanya dibarengin dengan statement, usulan, pendapat atau kata-kata yang ada dalam satu kingdom dengannya (jadi masuk istilah di IPA, see: klasifikasi makhluk hidup -____-"). Di satu sisi, ini membuat kita terkesan seperti "yang paling sok tau". Bener gak?


Sebenarnya apa yang aku tulis diatas hanya pemahbah basa-basi. Bukan itu yang ingin aku sampaikan. Mengapa harus menggunakan introduction yang begitu panjang? Mengapa tidak langsung pada pointnya? Aku juga tidak tahu mengapa. Aku hanya ingin menulis, dan apa yang muncul, aku tulis semua. Maaf bagi pembaca yang merasa keberatan dengan semua ini. Tapi serius, ada hal penting yang ingin aku sampaikan terkait penggunaan dua kalimat itu dalam konteks kehidupan.

Pernahkan lelah menjalani setiap rutinitas dalam kehidupan? Pernahkan merasa BOSAN, JENUH, TERTEKAN dengan situasi yang kita hadapi? Pernahkah merasa bahwa apa yang kita alami tidak adil bagi kita? Adakah kita pernah menanyakan ini:
- Mengapa saya lahir di keluarga ini? Mengapa tidak di keluarga A, B, C, D, E atau di keluarganya?
- Mengapa saya harus mengalami ini? Mengapa tidak membiarkan saya bersenang-senang?
- Mengapa saya harus bersamamu? Mengapa tidak bersama dengan orang lain?
- Mengapa saya harus hidup sebagai saya? Mengapa saya tidak hidup sebagai kamu?
- Mengapa .........................................? Mengapa tidak........................................? (isi saja dengan beribu kemungkinan pertanyaan yang muncul).

Bisa menangkap apa yang ingin kusampaikan? Kita terlalu sering mengeluh, kemudian menuntut Tuhan untuk memberikan apa yang kita anggap baik, menurut pandangan kita, bukan menurut apa yang Tuhan pandang baik. Siapa yang menciptakan manusia? Jadi siapa yang sebenarnya lebih mengerti apa  yang kita perlukan, apa yang baik dan tidak baik untuk kita? Adakah kedua pertanyaan itu mewakili rasa syukur atau sebaliknya? Aku tidak akan menjawab pertanyaan itu disini, ini tergantung pada diri kita masing-masing.

Sampai disini saja. Hope u can get the point of those paragraphs! Hopefully! May God be with us! (DRA, penghujung 2012)

Friday, December 14, 2012

Tak Seharusnya Melupakan

       Sudah lama aku tidak pulang. Dan entah mengapa, malam ini aku rindu untuk mengunjungi "rumah". Rumah ini bukan rumah biasa, bukan juga sebuah rumah yang luar biasa. Yang membuat rumah ini sedikit terlihat istimewa adalah kunci untuk membuka pintunya. Tidak ada yang tahu, tidak ada yang dapat membuka rumah ini, kecuali aku dan sahabat terbaikku. Masih ingat cerita tentang sahabatku? Sebelumnya, aku sempat menceritakan kisahnya bersama "L", laki-laki yang sangat dikaguminya disini.
         Baik, lupakan tentang kisah masa lalunya. Kali ini, ada hal lain yang akan aku ceritakan, masih tentangnya. Aku bertemu dengannya malam ini di ruang tamu setelah hampir sebulan belakangan ini kami sibuk dengan urusan masing-masing. Aku sibuk dengan tugas-tugas akhir semester di kampusku, dan dia sibuk dengan tulisan-tulisannya. Jelas aku terkejut begitu melihatnya tengah duduk sambil memainkan handphonenya. Biasanya jika ingin berkunjung, kami pasti membuat janji terlebih dahulu untuk pergi bersama-sama. Tapi, malam ini tidak demikian.
        "Kenapa gak bilang mau kesini?" tanyaku protes. Dia, sahabatku itu, berhenti memainkan handphonenya sembari tersenyum. Berbeda denganku, dia sama sekali tidak terkejut.
        "Emang kamu bilang?" Dia balik mengajukan pertanyaan. Sejenak, aku berusaha  mencerna makna di balik kalimatnya itu. Dua sesi mata kuliah pragmatics tadi pagi berhasil membuatku mengambil kesimpulan bahwa ada hal lain yang ingin dia sampaikan.Conversational Implicature, Politeness, Leech's Maxims, Brown and Lavinson muncul dalam pikiranku. Ah, padahal malam ini aku mampir ke rumah untuk terlepas dari kejenuhan akan tugas-tugas kuliah itu. Sahabatku justru mengundang mereka datang lagi.
         "Kapan ya terakhir kita ngumpul bareng?" tanyanya lagi. Aku kembali diam, tapi otakku tetap menyelidiki makna kalimat yang dia ucapkan. Aku duduk di sofa, tepat di hadapannya. Dia masih tetap tidak mengubah eskpresi wajahnya, tetap ada senyum disana, dia bahagia.
         "Lupa ya ngabarin aku?"
          Eh, lupa? Aku kembali mengingat-ingat bagaimana aku bisa sampai di rumah ini. Aku berusaha mengingat "lupa" yang tadi disebutkan oleh sahabatku. Saat aku tengah berusaha keras, tiba-tiba aku menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang dia ajukan. Sindiran.
         "Maaf," kataku mengakui kesalahan. Dia tetap tersenyum. Sahabatku ini, dia sama sekali tidak marah. Padahal jelas-jelas aku melupakannya. Bahkan, aku sepertinya dia sudah kuanggap hilang dalam kehidupanku sejak final project pertama yang harus kubuat sebulan yang lalu.
         "It's ok! Aku juga minta maaf. Gak ngabarin kamu karena takut ganggu."
         Kini aku bisa tersenyum. Aku kembali belajar sesuatu dari dia, sahabatku (sepertinya aku memang lebih sering belajar darinya). Seperti apa pun kesibukan yang kumiliki, tidak seharusnya aku melupakannya. Bagaimana pun kami adalah sahabat baik, tidak ada alasan untuk tidak saling menyapa ataupun memberi kabar. Untunglah dia tidak salah paham. Kami akhirnya menghabiskan waktu hingga 30 menit untuk menceritakan apa-apa saja yang telah terjadi selama kami tidak pernah bertemu. Meskipun banyak cerita yang masih harus di-pending, setidaknya itu cukup memberikanku pelajaran baru untuk melanjukan hariku esok.

*Dear sahabatku, sampai kapan kamu tidak ingin namamu disebut dalam catatan-catatan kecilku? Malu memiliki seorang sahabat yang tak pandai merangkai kata sepertimu? Tapi tak apalah, selama aku masih diizinkan untuk menulis pengalaman kita dan berbagi sesuatu kepada mereka, aku tidak akan pernah mendesakmu. Thanks for today ^^
        

Saturday, September 15, 2012

Berdampingan pada Pijakan yang Berbeda

Apa yang kita rindukan saat berada bersama dengan seseorang yang kita sayangi?
Saat mendapat pertanyaan yang demikian, tentu ada banyak jawaban yang bisa kita sampaikan. Dari semua jawaban-jawaban yang mungkin saja muncul, adakah kesimpulannya bahwa sesungguhnya yang kita inginkan adalah selalu ingin merasa dekat dengan pasangan kita sembari menikmati perputaran waktu? Sebagian besar, atau hampir semua kita akan memberikan jawaban: Ya!

Berjalan berdampingan adalah salah satu hal yang dapat memutus jarak (yang mampu terlihat) antara kita dan pasangan. Di satu sisi, pasangan yang berjalan berdampingan terlihat begitu "indah". Wanita khususnya akan merasa lebih tenang karena disebelahnya ada seorang pria yang akan selalu menemani dan menjaganya. Pria pun akan merasa nyaman karena selain mampu melindungi pasangannya, ia juga memiliki seorang partner yang dapat diajaknya untuk berbagi. Keduanya dapat saling mendukung satu dengan yang lain.

Perasaan aman yang sering kita rasakan saat berjalan berdampingan membuat kita seringkali melupakan bahwa sesungguhnya kita dan pasangan kita memiliki sebuah perbedaan yang significant. Saat kita berada disisi pasangan kita, itu berarti kita sedang melangkah pada garis yang berbeda. Ada dua titik berbeda di depan sana yang sedang kita tuju. Secara tidak langsung, ini telah menjadi simbol bahwa setiap kita, meskipun terikat oleh sebuah perasaan yang sama, tetap memiliki suatu perbedaan. Bisa saja perbedaan itu berupa cara pandang kita terhadap sesuatu, tujuan dan cita-cita, bahkan impian kita untuk kehidupan di masa yang mendatang.

Seringkali, jika kita tidak menyadari perbedaan itu sejak awal, akan ada paku-paku kecil yang menganggu langkah kita untuk tetap berjalan berdampingan. Jika salah satu diantara kita telah, sedang atau akan memutuskan untuk berjalan berdampingan dengan seseorang yang kita sayangi, ada baiknya kita mau terlebih dahulu saling memahami dan menghargai perbedaan-perbedaan yang ada. Jika memang ada hal-hal yang kita anggap tidak sesuai, mari bicarakan baik-baik agar dapat menemukan cara penyelesaiaan yang tepat. Jangan sampai perbedaan justru melukai perjalanan yang telah kita harapkan dapat berjalan dengan indah. Selamat melangkah dalam kebahagiaan saudara-saudaraku ^^ (DRA, 2012)

Wednesday, May 9, 2012

Kita, Daun Ini....

Ada banyak hal yang membuka mataku bahwa perbedaan yang menjadi satu itu adalah keindahan yang luar biasa. Suatu pagi, aku memperhatikan sebuah pot dengan sebuah tanaman tanpa bunga di depan kamar kosku. Entah mengapa tiba-tiba terlintas dalam pikirannku sebuah pertanyaan, "Mengapa Tuhan membuat tangkai tanaman ini dipenuhi beberapa helai daun? Kenapa tidak membiarkan dalam satu tangkai hanya ada sehelai daun? Bukankah dengan demikian daun akan tumbuh lebih baik karena unsur-unsur yang dibutuhkannya akan tercukupi dengan maksimal tanpa harus terbagi dengan yang lain?"

Tidak lama setelah  itu, aku temukan jawabannya. Manusia seharusnya belajar dari daun ini. Aku mulai menganalogikannya seperti ini. Jika saja manusia adalah daun itu dan tangkai adalah tempat dimana manusia itu tinggal maka ada hal menarik yang dapat dilihat. Kita, manusia, mari belajar untuk tidak menjadi egois, bisa hidup dengan baik bersama dengan orang lain di dalam satu area, tidak egois, tidak ingin menang sendiri dan selalu mau berbagi dengan orang lain. Jika hal  tersebut dapat terlaksana, maka akan keindahan yang akan tercipta. Sama seperti daun-daun ini..... (DRA, 2012)