Saturday, February 13, 2016

Hujan dan Valentine

Belakangan ini, hujan begitu gemar mengunjungi bumi. Jatuh hampir setiap hari. Banyak orang mensyukurinya, namun tidak banyak pula yang mengeluh. Karena hujan, aktivitas di luar rumah terganggu. Saya juga sempat terusik. Terlebih saat harus meninggalkan rumah, kemudian mengendarai sepeda motor menuju beberapa daerah di Bali Utara. Dilema. Antara pergi atau tetap di rumah sambil merajut, menulis, dan mendengarkan ost drama korea. Pada akhirnya, saya teringat rekan-rekan yang juga sudah menunggu. Saya harus berangkat. Dan sungguh, jika hari itu saya memutuskan untuk tidak beranjak dari zona nyaman, saya akan sangat menyesalinya.
Saya menghabiskan 4 hari 3 malam di Bali Utara. Bersama dengan rekan-rekan, saya mendapat kesempatan mengunjungi saudara-saudara di sana dan mendistribusikan donasi yang telah dikumpulkan oleh mereka yang tergerak hatinya berbagi untuk sesama. Melihat dan berkomunikasi langsung dengan mereka, ada banyak hal yang saya pelajari. Dari belasan keluarga, ada beberapa yang membuat bayangan mereka muncul dalam benak saya setiap kali hujan turun.
Kali ini, hujan mengiringi kisah seorang ibu yang tinggal bersama anak-anaknya di sebuah gubuk di tengah sawah. Untuk mencapai kediaman beliau, kami harus melewati pematang sawah yang becek dan licin. Saat sampai, seorang ibu keluar dari sebuah gubuk kecil beralas tanah. Matanya mulai berkaca-kaca saat donasi diserahkan. Sementara itu, pertanyaan datang dan mengusik kami. Bagaimana bisa mereka tinggal di sana? Apa yang terjadi jika hujan turun dengan begitu deras? Nyamankah?   
Bahagia rasanya bisa mengenal beliau. Banyak hal kecil yang dapat dilakukan untuk mengukir senyum, 
 Seorang anak perempuan yang mendampinginya tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih saat kami memberikan selembar rupiah yang nilainya bahkan tidak lebih besar dari harga paket cokelat dan bunga Valentine yang dijual di toko. Hanya karena pemberian kecil, mereka berdiri di bawah hujan, tanpa payung, melambaikan tangan, menghantar kepulangan kami.
Tidak jauh dari kediaman keluarga ini, ada kelurga lain yang membuat kami bersyukur karena dapat belajar banyak dari mereka. Sepasang suami istri dengan dua anak ini tetap dapat membagikan kehangatan meskipun tinggal di rumah berdinding bambu.
Ada kehangatan saat kita berbagi. 
Satu lagi kisah di tengah hujan yang tidak terlupakan adalah rona bahagia dari seorang nenek yang tinggal seorang diri. Suami beliau telah lama meninggal. Tidak ada anak yang merawatnya. Setiap hari, Nenek ini beristirahat di dipan yang bersebelahan dengan tungku tempatnya memasak. Beliau tidur di sana, di tempat tanpa dinding. Meskipun begitu, tidak ada sedikit pun kesedihan terpancar. Beliau masih bisa tersenyum, di tengah hujan.  

Hari ini, 14 Februari 2016, hujan turun dengan deras di Denpasar, dan mungkin terjadi juga di daerah-daerah lain di Indonesia. Apa yang akan kita lakukan? Mengeluh karena tidak dapat memberikan kado, cokelat ataupun bunga secara langsung kepada orang yang kita kasihi? Jika sampai hal tersebut terjadi, ingatlah bahwa ada orang di sana yang masih bisa membagikan kasih sayang di tengah kondisinya saat hujan turun. 
Terima kasih telah mengajak saya menjadi bagian dari perjalanan ini :)

Saturday, November 22, 2014

Apa Benalu juga Sedih?

Simbiosis: Mutualisme, parasitisme, komensalisme.
Aku ingat materi ini. Dulu, saat masih berseragam putih-merah, yang paling mudah kuingat adalah parasitisme. Ini karena di kebun, bapak, suka ngebersihin benalu. Aku yang waktu itu masih imut dan nggak ngerti apa, ya jelas nanya kenapa sampai benalu nggak boleh ikut tumbuh di pohon. Parasit, jelas bapak. Mulai sejak itu, mengertilah aku apa yang disebut parasit.
Setelah sekian tahun berlalu, mendadak aku memikirkan perasaan benalu ketika bapak tidak mengizinkannya menumpang hidup di kebun. Sedihkan ia? Jangan-jangan, di dalam hatinya yang terdalam, ia sebenarnya juga ingin menjalin hubungan mutualisme dengan pohon kakaoku. Hanya saja dia tidak pernah mampu melakukannya. Karena seberapa keras pun ia mencoba, benalu tetaplah parasit. Tidak ada yang bisa ia lakukan. 

Jika benar demikian, benalu pasti mengalami masa yang sulit.
Saat ia hanya dianggap merugikan pihak lain, tidak dianggap berguna, tidak dapat melakukan apa-apa, that's extremely frustrating. Mungkin, sempat terpikir di benaknya jika hidup akan lebih baik jika dia menjadi makhluk hidup yang dapat menjalin hubungan komensalisme. Tapi..., kupikir itupun tidak sepenuhnya menyenangkan. 

Ah..., kasihan sekali benalu. Dianggap hanya menganggu kehidupan mahkluk lain, sehingga lebih baik baginya untuk dijauhkan segera. Maka, tidak heran jika saat mengetahui banyak orang tidak menginginkan keberadaannya, benalu mungkin akan merasa putus asa. 

Aku mengerti itu. Aku, benar-benar bisa mengerti itu.


Monday, June 16, 2014

Janji Bersama

“Kapan menyusul?”

Aku menarik kedua ujung bibir, mengungkung kata yang nyaris terucap. Jenuh rasanya mendengar pertanyaan itu.

Ia bangkit dan mendekat. Jemari dengan cat kuku kuning terang itu menyentuh bahuku. “Aku dan Puput sudah memesan kebaya.”

“Aku tahu,” sahutku cepat.  Telingaku memanas dan kurasakan sesal tertimbun dalam hati. Sejak awal, kami telah mengikat janji untuk berdiri bersama dan membuat orangtua bahagia. “Ini hanya masalah waktu.”

Ia mengangguk dan mengarahkan bola matanya pada HVS yang berserakan di atas meja. Keraguan kembali membuncah di wajahnya. “Kamu tidak apa-apa, kan?”

“Tentu!”

Ia mengembuskan napas dan memandangku. “Aku berharap kita bisa sama-sama.”

Kusunggingkan senyum kemudian melempar tanya, “Kamu tahu siapa calon presiden kita?”


Alisnya tertaut menanggapi caraku untuk membuatnya berhenti membahas toga yang akan diambilnya di fakultas.


*terinspirasi dari lagu Disguise, Lene Marlin.
"I am OK, I really am now...."
#KampusFiksi #FiksiLaguku

Thursday, September 26, 2013

Tuhan Berkarya; Kami Pake Jas Almamater

Kau selalu punya cara untuk menolongku
Kau selalu punya jalan kebaikanMu
Kau dahsyat dalam segala perbuatanMu
Dan ku tenang di dalam caraMu
(Tuhan Punya Cara)
Saya ingat, dulu saat masih SMA, saya pernah nangis karena merasa gak akan pernah bisa ngelanjutin pendidikan. Bapak yang adalah buruh serabutan, dan ibu yang sehari-harinya jualan di kantin sekolah gak mungkin bisa membiayai kuliah saya. Waktu itu saya seperti kehilangan semua mimpi. Padahal sejak kecil saya pengen banget jadi guru. Gimana caranya bisa ngewujudin cita-cita kalo gak bisa kuliah? Semaleman saya nangis di dalem kamar, saya bahkan sampe nulis di buku harian kalau saya bakalan berhenti punya mimpi. 

But, fortunately, melalui orang-orang di dekat saya, Tuhan mengingatkan saya kalau semua masih bisa terjadi. Melalui cara-NYA yang ajaib, saya akhirnya bisa menggunakan jas almamater, diterima di perguruan tinggi yang bisa mengantarkan mimpi saya sebagai seorang guru, dengan beasiswa. Hingga saat ini, bapak dan ibu bahkan tidak mengeluarkan uang untuk biaya kuliahs saya. Berkat Tuhan tidak pernah berhenti mengalir.

Kalau saya pulang kampung, ibu masih gak nyangka kalo anaknya bisa jadi mahasiswa, pergi ke kampus dan pake jas almamater. Tapi inilah kenyataannya. Karya Tuhan yang nyata dalam kehidupan kami. Dan bapak, setiap kali dapet pertanyaan dari orang lain, bagaimana sampe bisa nyekolahin anak, beliau bakalan bilang, "Bukan saya yang nyekolahin. Ini karena kebaikan Tuhan."

Dan kebaikan Tuhan rupanya tidak berhenti sampe disana. Adik saya, akhirnya jadi mahasiswi di fakultas kedokteran, jurusan psikologi. Beberapa orang sempat meragukan semua ini. Gimana caranya bisa menanggung biaya pendidikan dua orang anak di perguruan tinggi? Sekali lagi, Tuhan yang punya cara. Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi-NYA. 

Saya coret pernyataan yang dulu sempat saya tulis bahwa saya akan berhenti bermimpi. Saya gak akan pernah berhenti menaruh pengharapan di dalam Tuhan. Saya percaya bahwa IA menyusun skenario yang indah untuk kehidupan ini :)


Friday, September 13, 2013

Semangat Belajar dan Rasa Percaya Diri

Terlalu banyak pelajaran yang saya dapatkan selama KKN, dan ini adalah salah satu diantaranya. Kalau di postingan sebelumnya, saya sempat menceritakan tentang bagaimana belajar berbagi dari Kadek Jenni dan Komag Dinas (sudah baca yang ini?), kali ini saya akan fokus pada semangat belajar yang dimiliki oleh anak bungsu dari keluarga tempat saya menumpangs selama di desa.

He's Komang Dimas. Usianya antara tiga-empat tahunan, belum sekolah. Dia sering banget bawa kotak krayon, sama tas kresek "poleng" yang isinya buku tulis. Dari kotak krayon yang dia pegang, akhirnya saya suka nanya-nanya ke dia tentang warna. Sebelumnya, dia memang belum hafal sama warna, pelan-pelan akhirnya temen-temen KKN yang lain juga mulai  ngajarin dia tentang warna. 

Kotak krayon dibuka. Setiap kali kami nyebutin satu warna, Mang Dimas harus ngambil krayon yang sesuai. Kami bilang "hitam", Mang Dimas bakalan ngambil krayon warna hitam, trus sambil nyengir, dia bakalan ngangkat krayon itu, nunjukin ke kami. Setelah dikasi pernyataan bener atau salah (via tepuk tangan), dia bakalan senyum-senyum sambil naruh lagi krayon ke tempatnya. Dari sekian warna, hitam sama putih adalah yang paling cepet dia tangkep.

Suatu malam, setelah selesai kegiatan di Posko dan kami akhirnya kembali ke tempat nginep, ternyata Mang Dimas sama Kadek Jeni sudah nungguin kita di teras depan kamar. Pas itu, salah satu temen, Bli Gusti, ngambil gitarnya terus ngajakin mereka nyanyi. Memang, karena masih jadi siswi TK baru, Kadek Jeni suka banget nyanyi lagu anak-anak yang baru diajarin di sekolahnya. Pokoknya, setiap ada ksempatan, dia pasti nyanyi dengan sangat ekspresif.

Komang Dimas, "Guruku yang Polos"
Nah trus, tibalah pada lagu "Lihat Kebunku". Jreng, gitar dimaenin sama Bli Gus, kami mulai nyanyi. Dan pas nyampe di baris kedua; Ada yang putih dan ada yang merah, si Komang malah protes, trus dia mengiterupsi "HITAM". Ups, jadilah liriknya berubah; Ada yang putih dan ada yang hitam. Spontan, kami terkejut, trus jadi senyum-senyum sendiri. Rupanya, Mang Dimas suka banget sama warna hitam dan putih. Hehehe,...

Dan kami sadar, pernyataan polos anak itu bukan untuk ditertawakan. Yang kami tahu, dia hebat! Dia punya rasa percaya diri yang tinggi. Apa yang diketahui, meskipun masih sangat terbatas, dia tidak malu untuk mengungkapkannya. Dia juga tidak malu, bahkan ketika secara tidak sengaja kami spontan senyum-senyum ngeliat tingkahnya itu. Dia gak takut salah, dan tetap mau lanjut nyanyi-nyanyi bareng lagi.

Sejak saat itu, dia semakin rajin belajar bawa kotak krayon sama kresek "poleng". Hari lepas hari, dia gak cuma tahu hitam sama putih lagi, tapi juga warna-warna yang lain. Kami sempat kasi dia hadiah buku mewarnai, dan mulai sejak saat itu, dia jadi tambah rajin ngewarnai. Dia sering nungguin kami pulang ke rumah meskipun kadang kegiatan yang padet bikin kami pulang malem. Bisa lihat bagaimana semangat belajar dan rasa percaya diri dari anak ini? Kembali belajar dari anak kecil, dia guru saya yang sangat polos :)



Friday, September 6, 2013

Underestimating Students

Pengen nangis rasanya pas bikin judul untuk postingan ini, T.T
I was one of those students!

Dulu. Dulu yang rasanya masih seperti beberapa jam yang lalu karena kenangan itu bahkan tidak bisa dengan mudah dihapus dari memori saya, meskipun memang kejadiannya sudah sangat lama, beberapa tahun yang lalu."Dulu" saya pernah berada pada posisi itu, being underestimated

Karena faktor tertentu, saya pernah harus berada pada kelas "terakhir". Benar-benar yang terakhir. Kalau seandainya dalam satu lembaga pendidikan ada 26 kelas, dan mereka diurut menjadi kelas A-Z, maka saya berada pada kelas Z. Yang paling akhir itu. Naas? Saya tidak merasa seperti itu. Karena pada saat itu, saya, dan teman-teman di kelas Z tidak ditempatkan berdasarkan rengking.

Suatu ketika, kami diajar oleh seseorang. Beliau ini sangat saya hormati. Saya masih ingat betul suasana pelajaran saat itu. Kalau semakin dipikirkan, saya kadang heran dengan diri saya, kenapa saya bisa mengingat setiap detail kejadian yang terjadi di kelas saat itu? Padahal jelas-jelas itu sudah lama berlalu. 

Entah disengaja atau tidak, tanpa diduga, beliau mulai membanding-bandingkan kelas Z dengan kelas-kelas di atasnya (A-Y). Dari nada bicaranya, saya bisa menangkap bahwa beliau seperti merasa kecewa dengan kelas Z. Beliau mulai menceritakan setiap nilai plus dari kelas A-Y. Kesannya, beliau tidak suka, tidak nyaman, tidak ingin berada di kelas Z. Ini yang ada di pikiran saya saat itu ketika beliau mulai membuka suaranya, dan menganggap kelas Z kalah jauh dari kelas-kelas lainnya. Jujur, secara pribadi, pada saat itu saya merasa sangat kesal. Kenapa harus dibanding-bandingkan? Kalaupun kami memang tidak "sehebat" kelas A-Y, memang kenapa? Apa pelajaran yang beliau sampaikan hanya diperuntukkan bagi kelas-kelas hebat (yang sesuai dengan standarnya?)

Oke, semua yang tertulis di atas adalah apa yang saya pikirkan dari sudut pandang saya pribadi. Kalau dilihat dari sudut pandang beliau, mungkin saja ada alasan yang kuat mengapa beliau berlaku demikian. Mungkin maksud beliau ingin memotivasi kelas Z, ingin membuat kelas Z memiliki kemampuan untuk melompat hingga berada diantara kelas G dan H. Who knows?

Dulu saya sering menghibur diri sendiri, mencoba berpikir positif, "beliau mungkin punya maksud yang baik." Sekali dua kali, saya terus menghibur diri dengan cara seperti itu, tapi, ternyata beliau tidak berhenti membandingkan. Saya tidak tahu, apa saya yang telalu sensitif atau bagaimana, yang jelas setiap kali beliau mulai membicarakan kelas lain, ekspresi wajahnya, maaf, terkesan meremehkan.

Berawal dari sana, saya menjadi minder. Entah kenapa, saya mengiyakan apa yang beliau katakan. Kelas Z, kelas yang dimana saya ada di dalamnya, adalah kelas yang tidak sebaik A-Y. Saya mulai berpikir bahwa saya tidak bisa apa-apa. Saya bodoh, saya tidak pernah bisa membuat beliau puas dengan apa yang saya kerjakan. Dan percaya atau tidak, ini telah banyak mempengaruhi saya. SANGAT BANYAK! Setiap kelas beliau, saya akan duduk di tempat dimana beliau tidak bisa melihat saya, tidak bisa mendekat, tidak bisa menyuruh saya untuk menjawab pertanyaan yang beliau lakukan. SAYA BERSEMBUNYI. Saya takut kalau sampai beliau "menangkap" saya, kemudian saya tidak bisa mengerjakan tugas yang beliau berikan dengan baik, beliau akan mengubah pelajaran menjadi kelas perbandingan. 

Oke, karena saya bersembunyi, saya selalu merasa takut setiap kali mengikuti pelajaran. Saya tidak pernah tenang. Saya takut nama saya tiba-tiba disebut. Takut, tegang, gemetar, resah selalu saya rasakan sepanjang jam pelajaran, hingga akhirnya saya mendapati bahwa saya "tidak pernah sehat" saat mengikuti pelajaran beliau.

Sakit? Iya saya sakit. Saya jadi tidak dapat mengikuti pelajaran seperti biasanya. Saya tidak mau terus-terusan sakit. Bisa dibayangkan betapa menderitanya saya jika setiap minggu harus bertemu dengan beliau dan merasakan "sakit" itu terus-menerus? Akhirnya, saya bertekad untuk sembuh! Saya ingin sembuh!

Maka di pertemuan yang lain, saya memberanikan diri untuk duduk di depan, di depan beliau! Nekat! Menit-menit awal, saya gelisah bukan main. Tapi saya masih mencoba untuk bisa menghibur diri. Mungkin di menit berikutnya, rasa gugup saya akan hilang. Tapi sayangnya, prediksi saya meleset. Saya semakin cemas, semakin takut, apalagi saya beliau mulai melemparkan pertanyaannya. Waktu itu, tidak banyak yang mengacungkan tangan dan memberanikan diri untuk menjawab pertanyaannya yang sangat mudah itu.

Jujur, saya tahu jawabannya. Bahkan, saya merasa bahwa jawaban yang saya siapkan sudah tepat. Untuk itu, saya memberanikan diri, meskipun saya sebenarnya tengah mengalami sport jantung akut saat perlahan mengangkat tangan dan menawarkan diri untuk menjawab. Dan apa Anda tahu apa yang terjadi, saudara-saudara? Susunan kalimat yang begitu rapi, mendadak berantakan. Tidak jelas, tidak terstruktur, bahkan saya sendiri malu mendengarkannnya. :'( 
Dan karenanya, saya berniat untuk kembali bersembunyi. Saya masih gugup, saya masih gemetar, dan saya belum sembuh. Sampai saat ini! Dan anehnya, ini hanya berlaku saat berhadapan dengan beliau. Saya sakit jika melihat beliau, *ini penyakit kroniskah?

Bukannya saya tidak mau untuk sembuh, tapi saya tidak tahu harus bagaimana supaya sembuh!

Sejak saat itu, saya tahu bagaimana rasanya, di-underestimated. Meskipun banyak orang bilang, menjadikannya sebagai batu lompatan supaya lebih jengah, tapi apa yang sudah terlanjur ditanam dan berakar kuat itu, bagi sebagian orang-termasuk saya, sangat sulit untuk dimusnahkan. Dan kini, saat harus berhadapan dengan para siswa karena mengikuti PPL, saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak mencetak lebih banyak siswa yang bersembunyi. Setiap orang punya kemampuan, pemahanan, dan daya tangkap yang berbeda, tidak bisa selalu dituntut untuk menjadi sama, benar begitu?

"Membanding-bandingkan satu orang dengan yang lainnya, tepat di hadapan orang yang bersangkutan sanggup menimbulkan luka batin yang terlalu dalam" 

  


Saturday, August 24, 2013

Introduction to Education

Ni Putu Deanitha Rizki Awalia
(presentasi dalam bantuk power point download disini)

Pendidikan Ditinjau dari Filsafat Progresivisme

A. Pengertian ilmu pendidikan dan pendidikan secara umum
1.    Pengertian Ilmu Pendidikan
Ilmu pendidikan terdiri dari 2 kata yang mendasar yaitu ilmu pengetahuan dan pendidikan. Ilmu pengetahuan dapat diartikan sebagai uraian yang lengkap dan tersusun tentang suatu objek (Sultan Imam Barnadid, 1973). Ilmu pengetahuan dapat pula diartikan sebagai uraian yang sistematis dan metodis tentang sesuatu hal atau masalah. (Amir Dare Indrakusuma, 1973). Tidak jauh berbeda dari pengertian-pengertian sebelumnya, H. M. Alisuf Sabri dalam buku Ilmu Pendidikan menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan adalah uraian yang lengkap, sistematis dan metodis tentang sesuatu objek ataupun masalah.   
Dalam buku yang sama, beliau juga menjelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dari orang dewasa untuk membantu atau membimbing pertumbuhan dan perkembangan anak atau peserta didik secara teratur dan sistematis.  Dengan demikian ilmu pendidikan dapat diartikan sebagai uraian masalah secara sistematis dan metodis. Ini berarti ilmu pengetahuan yang ilmiah yang tidak perlu lagi diragukan keberadaannya karena sudah memiliki kriteria persyaratan ilmu pengetahuan yang ilmiah yaitu memiliki objek, metode dan sistematika yang jelas dan pasti.
Definisi yang terpenting:
  • Meningkatkan pengetahuan, pengertian, kesadaran, dan toleransi
  • Meningkatkan questioning skills dan kemampuan menganalisakan sesuatu  termasuk pendidikannya
  • Meningkatkan kedewasaan individu
  • Untuk perkembangan Negara, diperlukan pendidikan yang menghargai kreativitas dan individual thinking supaya negara dapat membuat sesuatu yang baru dan lebih baik, dan tidak hanya meng-copy dari negara lain.
Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa ilmu pendidikan adalah uraian yang sistematis dan metodis tentang suatu hal guna meningkatkan aspek-aspek kemampuan di dalam diri individu yang selanjutnya dapat memberikan dampak yang posiif bagi bangsa.

2.         Pengertian Pendidikan secara umum

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pendidikan berasal dari kata dasar didik (mendidik), yaitu : memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian : proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik

Ada beberapa pendapat pakar mengenai defnisi pendidikan, diantaranya:
a.   Prof. Lodge: the word of education is used sometimes in a wider, sometimes in a narrower, sense. In the wider sense, all experience is said to the ducative.  
Perkataan pendidikan terkadang dipakai dalam pengertian yang lebih luas, terkadang dalam arti yang lebih sempit. Dalam arti luas, semua pengalaman dapat diktakan sebagai pendidikan.
b.   Carter V. Good: (1) the art, practice, or profession of teaching. (2) the systematized learning of instruction concerning principles and mehods of teaching and of student control and guidance; largely replaced by the term education.
(1)seni, praktik, atau profesi sebagai pengajaran. (2) ilmu yang sistematis atau pengajaran yang berhubungan dengan prinsip-prinsip dan metode-metode mangajar, pengawasan dan bimbingan murid; dala arti luas digantikan dengan istilah pendidikan.

c.  Ki Hajar Dewantara: Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah upaya untuk pendewasaan rohani maupun jasmani dengan berinteraksi dengan alam dan lingkungan sekitarnya. Pendidikan juga diharapkan dapat mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran dimana peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Selain itu, pendidikan juga meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan.

B. Pengertian Pendidikan Ditinjau Secara Klasik dan Modern
1.    Pendidikan Klasik
Pada abad ke-6, pendidikan klasik dikatakan sebagai istilah  liberal arts oleh Cassiodorus, seorang pejabat Roma. Liberal arts, yang mengusung kata liberal yang berarti membebaskan. Berdasarkan hal tersebut, pendidikan di bagi menjadi 2 cabang yaitu
a.       trivium:  tiga tahap untuk meraih pengetahuan
·         gramatika, atau pengetahuan kongkrit. Pada masa ini manusia belajar dengan menghapal.
·         Dialektika pada tahap ini kita mulai membuat hubungan antara satu fakta dengan yang lainnya
·         Retorika adalah kemampuan berkomunikasi dan berekspresi.

b.       quadrivium: adalah ilmu sebagai subjek seperti yang dikenal sekarang.
·         Aritmatika adalah ilmu yang mempelajari tentang angka pada dirinya sendiri.
·         Geometri mempelajari tentang angka di dalam ruang.
·         Musik mempelajari tentang angka di dalam waktu.
·         Dan astronomi, yang sering dianggap sebagai ilmu tertinggi, adalah ilmu yang mempelajari angka di dalam ruang dan waktu.
Seseorang yang dilahirkan dari pendidikan klasik ini, setelah melalui jalan yang panjang, diharapkan memiliki kemampuan sebagai penerus peradaban manusia dan membawa umat manusia ke masa depan yang lebih baik.

2.    Pendidikan Modern
Dewasa ini di dalam dunia pendidikan tengah ramai penggunaan model-model pembelajaran dengan pendekatan PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Sehingga pendidikan cara klasik dianggap sudah tidak sesuai dengan perkembangan kondisi jaman saat ini. Dengan demikian otomatis setiap elemen pendidikan termasuk diharapkan dapat menyesuaikan dengan trend pendidikan modern saat ini.
Pengembangan perangkat pembelajaran seperti RPP, Media, Model pembelajaran semuanya diubah dan disesuaikan dengan standar pendidikan modern yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas peserta didik.
Harapan yang begitu tinggi terlebih lagi dengan penerapan kurikulum yang dianggap paling mutakhir yaitu KTSP ternyata belum cukup memberikan jawaban yang memuaskan bagi kondisi pendidikan di indonesia. Problematika yang berkembang justru semakin kompleks dan terasa tiada ujungnya. Secara garis besar perbedaan antara pendidikan modern dan klasik dapat dicermati melalui tabel berikut:

No
Faktor Pembanding
Pendidikan Klasik
1
Pendidikan Moral
Penanaman Humanisme dengan cara Anti Kekerasan
Penanaman Humanisme dengan menggunakan Kekerasan dalam taraf wajar.
2
Fungsi Guru
Sebagai Motivator dan Fasilitator.
Pusat segala aktivitas pendidikan baik di lingkungan sekolah maupun luar sekolah.
3
Penerapan Etika
Tergantung pada masing-masing individu peserta didik.
Wajib diterapkan di dalam maupun luar lingkungan sekolah.
4
Punishment and Reward.
berupa himbauan dan apresiasi sesuai dengan kompetensi peserta didik.
Berupa himbauan dan apresiasi sesuai dengan kompetensi peserta didik.


C. Pendidikan sebagai Proses Pemanusiaan Manusia
Manusia memiliki eksistensi dimana keberadaaan manusia sebagai mahluk hidup yang berbeda secara prinsipiil dan berbeda dengan hewan. Adanya sifat hakiki pada manusia tersebut memberikan tempat kedudukan pada manusia sedemikian rupa sehingga derajatnya lebih tinggi daripada hewan dan sekaligus menguasai hewan.
Semua sifat hakiki ini dapat dan harus ditumbuhkembangkan secara selaras dan berimbang melalui pendidikan. Pendidikan sebagai proses pemanusiaan manusia mengandung arti bahwa pendidikan memiliki peran dalam membentuk manusia seutuhnya. Tidak hanya sekedar hadir di tengah-tengah masyarakat, namun mampu memberikan pengaruh terhadap lingkungan di sekitarnya. Untuk itu, terlebih dahulu manusia pelu dibekali dengan kepribadiaan dan perilaku yang sesuai dengan norma dan moral yang berlaku di tegah-tengah masyarakat.
Menurut Herbart setiap kurikulum itu harus terbuka dan menyatu dengan setiap subyek didik sehingga dapat membantu pembentukan kepribadiannya dari tidak beradab menuju kepada yang beradab (yang manusia menuju yang manusiawi). Karena itu pendidikan bertujuan untuk membangun setiap subyek didik dengan memperkenalkan ide-ide secara jelas, terseleksi, menarik dan sesuai kurikulum sehingga subyek didik dapat berkreasi atas dasar ide tersebut untuk menghasilkan ide baru dan diaplikasikan dalam kehidupannya.
Pendidikan sebagai proses pemanusiaan manusia itu dapat membuat  setiap orang memahami dengan baik makna hidup dimana untuk selanjutnya diharapkan mampu mengaplikasikannya ke dalam lingkungan sesuai dengan norma-norma yang ada di dalam masyarakat.
Manusia yang mengalami proses pendidikan adalah makhluk yang individu dan sosial. Mereka adalah individu yang otonom dalam kebersamaan dengan yang lain. Maka dari itu pendidikan mengemban tugas besar yakni, menuntun, membimbing dan menyadarkan manusia sebagai pribadi yang otonom dalam menentuikan diri sendiri serentak pula mengantar setiap individu menjadi makhluk sosial yang bisa hidup harmonis bersama orang lain. Apabila peran pendidikan ini dapat berlangsung dengan baik, maka akan muncul manusia-manusia yang dapat menempatkan dirinya di tengah-tengah masyarakat, melakoni kehidupannya sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing.

D. Pentingnya Pendidikan bagi Manusia
Pendidikan selalu berkaitan dengan manusia dan merupakan pilar utama terhadap pengembangan manusia dan masyarakat. Meskipun seringkali hasil dari pendidikan tidak tanpak dengan segera, peran pendidikan sangat penting bagi kehidupan manusia. Ha l ini diperkuat oleh seruan UNESCO, badan PBB yang menangani bidang pendidikan kepada seluruh  bangsa-bangsa di dunia yang meyatakan apabila ingin membangun dan berusaha memperbaiki keadaan seluruh bangsa, maka haruslah dari pendidikan, sebab pendidikan adalah kunci menuju perbaikan terhadap peradaban. Oleh karena itu UNESCO merumuskan bahwa pendidikan itu adalah:
1. Learning how to think (Belajar bagaimana berpikir)
2. Learning how to do (Belajar bagaimana melakukan)
3. Learning how to be (Belajar bagaimana menjadi)
4. Learning how to learn (Belajar bagaimana belajar)
5. Learning how to live together (Belajar bagaimana hidup bersama)
Dengan demikian, pendidikan tidaklah sekedar proses mentrasfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), namun lebih menekankan pada tujuan pendidikan sesungguhnya, yaitu menciptakan pribadi yang memiliki sikap dan kepribadian yang positif. Sikap dan kepribadian yang positif antara lain:
  • Memiliki dan bangga berkompetensi, yakni memiliki Ilmu pengetahuan
  • Bangga berdisiplin
  • Tahan mental menghadapi kesulitan hidup
  • Jujur dan dapat dipercaya (memiliki karakter yang baik dan integritas yang baik atau suka bekerjasama dalam tim)
  • Memiliki pola pikir yang rasional dan ilmiah
  • Bangga bertanggung jawab
  • Terbiasa bekerja keras
  • Mengutamakan kepedulian terhadap sesamanya
  • Mengutamakan berdiskusi dari pada berdebat (not conflict but consensus)
  • Hormat pada aturan
  • Menghormati hak-hak orang lain
  • Memiliki moral dan etika yang baik
  • Mencintai pekerjaan
  • Suka menabung
Pendidikan memegang peranan yang sangat penting. Melalui pendidikan yang baik, maka akan muncul individu-individu yang berkualitas yang mampu bersaing dalam berbagai bidang di era globalisasi ini. Untuk mewaujudkan hal ini tentu diharapkan kerja sama yang baik dari semua pihak, terutama insane-insan pendidikan yang ada.

E. Pendidikan ditinjau dari Filsafat Progresivisme
1. Pengertian Filsafat Pendidikan
            Filsafat Pendidikan adalah filsafat yang menyelidiki hakekat pelaksanaan pedidikan yang bersangkutan dengan tujuan, latar belakang, cara dan hasilnya serta hakekat ilmu pendidikan yang bersangkut paut dengan analisis kritis terhadap struktur dan kegunaannya.
            Salah satu dari filsafat pendidikan tersebut adalah progresivisme. Progresivisme yang lahir sekitar abad ke-20 merupakan filsafat yang bermuara pada aliran filsafat pragmatisme yang diperkenalkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey (1859- 1952), yang menitikberatkan pada segi manfaat bagi hidup praktis. Filsafat progressivisme dipengaruhi oleh ide-ide dasar filsafat pragmatisme dimana telah memberikan konsep dasar dengan azas yang utama yaitu manusia dalam hidupnya untuk tetap survive terhadap semua tantangan, harus pragmatis memandang sesuatu dari segi manfaatnya.
Pengertian yang paling mendasar dan menjadi ciri dari dilsafat ini adalah progress yang berarti maju. Progresivisme mengutamakan pengertiannya ke masa depan dengan memandang bahwa kemajuan yang telah dicapai oleh manusia dewasa ini karena kemampuan manusia dalam mengembangkan berbagai ilmu-ilmu yang meliputi ilmu-ilmu social budaya maupun Ilmu Pengetahuan Alam. (Imam Barnadib, 1996). Dengan kata lain, manusia akan mengalami perkembangan apabila berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya berdasarkan pemikiran.
2.Prinsip Teori Pendidikan berdasarkan Filsafat Progresivisme
            Progresivisme mengembangankan teori pendidikan yang mendasarkan diri pada beberapa prinsip, antara lain:
a)      Anak harus  bebas untuk dapat berkembang secara wajar.
b)      Pengalaman langsung merupakan cara terbaik untuk merangsang minat belajar.
c)      Guru harus menjadi peneliti dan pembimbing kegiatan belajar.
d)     Sekolah progresif harus merupakan suatu laboratorium untuk melakukan reformasi pendagogis dan eksperimentasi.
Aliran filsafat progresivisme telah memberikan sumbangan yang besar di dunia pendidikan dengan meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik. Anak didik diberikan kebebasan baik secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya, tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain.
Oleh karena itu filsafat progressivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. Sebab, pendidikan otoriter akan mematikan tunas-tunas para pelajar untuk hidup sebagai pribadi-pribadi yang gembira menghadapi pelajaran. Dan sekaligus mematikan daya kreasi baik secara fisik maupun psikis anak didik.
Untuk itu pendidikan sebagai alat untuk situasi yang edukatif yang pada akhimya akan dapat memberikan warna dan corak dari output (keluaran) yang dihasilkan sehingga keluaran yang dihasilkan (anak didik) adalah manusia-manusia yang berkualitas unggul, berkompetitif, insiatif, adaptif dan kreatif sanggup menjawab tantangan zamannya.

Selain kemajuan atau progres, lingkungan dan pengalaman mendapatkan perhatian yang cukup dari progresivisme. Untuk itu filsafat progresivisme menunjukkan dengan konsep dasarnya, sejenis kurikulum dimana program pengajarannya dapat mempengaruhi proses pembelajaran baik di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah.
Sekolah yang baik dapat memberi jaminan kepada para siswanya selama belajar, mampu membantu dan menolong siswanya untuk tumbuh dan berkembang serta memberi keleluasaan tempat untuk para siswanya dalam mengembangkan bakat dan minatnya melalui bimbingan guru dan tanggung jawab kepala sekolah. Kurikulum dikatakan baik apabila bersifat fleksibel dan eksperimental (pengalaman) dan memiliki keuntungan-keuntungan untuk diperiksa setiap saat.
Jenis kurikulum yang bersifat luwes (fleksibel) dan terbuka. Jadi kurikulum itu bisa diubah dan dibentuk sesuai dengan zamannya. Kurikulum harus dapat mewadahi aspirasi anak, orang tua serta masyarakat. Maka kurikulum yang edukatif dan eksperimental dapat memenuhi tuntutan itu.
Kurikulum dipusatkan pada pengalaman atau kurikulum eksperimental didasarkan atas manusia dalam hidupnya selalu berinteraksi didalam lingkungan yang komplek. Untuk itu ia memerlukan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan demi kelestarian hidupnya. Hidupnya bukan hanya untuk kelestarian pertumbuhan saja, akan tetapi juga untuk perkembangan pribadinya. Oleh karena itu manusia harus belajar dari pengalaman.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa progressivisme mempunyai konsep yang didasari oleh pengetahuan dan kepercayaan bahwa manusia itu mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi masalah yang menekan atau mengecam adanya manusia itu sendiri. Aliran Progressivisme mengakui dan berusaha mengembangakan asas Progressivisme dalam semua realitas, terutama dalam kehidupan adalah tetap bertahan terhadap tantangan hidup manusia, harus praktis dalam melihat segala sesuatu dari segi keagungannya dan menghindari pendidikan yang bercorak otoriter, baik yang timbul pada zaman dahulu maupun pada zaman sekarang.

  
REFERENSI
Barnadib, Imam. 1996. Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta: Ghalia Indonesia
Mudyaharjo, Radja. 2004. Filsafat Ilmu Pendidikan: Suatu Pengantar. Bandung: PT Raharja Rosdakarya
Muhadjir, Noeng. 1999. Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial. Yogyakarta: Reka Serasih
Subri, Alisuf. 1999. Ilmu Pendidikan. Jakarta: CV Pedoman Ilmu
Tim Dosen FIP-IKIP Malang. 2003. Pengantar Dasar-Dasar Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional
Tirtarahaja, Umar dan La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta
Vaizey, John. 1978. Pendidikan di Dunia Modern. Jakarta: PT Gunung Agung

Internet: